Saudaraku, Bisakah Kita Berhenti Bergsoip?

Posted on Februari 22, 2011. Filed under: artikel |


Dengan membuka dan membaca postingan ini berarti anda penggosip. Eit, sabar… baca dulu—jangan setengah-setengah. Jangan sampai sudah penggosip, pemarah pula—sangat tidak sehat. Pada dasarnya, kita semua—dari pengangguran seperti saya sampai dengan orang berdasi di senayan sana—adalah penggosip. Anda? Saya ragu jika anda adalah sebuah pengecualian.

Memang.  Dari sudut pandang sempit, bergosip bisa diartikan sebagai: membicarakan orang (pihak) ketiga yang sedang tidak ada ditempat. Orang jawa bilang “ngerasani”.

Misalnya: Saya dan anda membicarakan Sdr. Juragan Qripix (JQ), sementara dia tidak ada. Atau, saya dan Sdr. JQ membicarakan Sdr. Erianto Anas (EA), sementara EA tidak ada di sini. Kelompok A membicarakan kelompok B, sementara kelompok B tidak ada.

Lalu, di rumah. Mungkin membicarakan tetangga yang suka parkir di depan gerbang (mentang-mentang punya mobil baru), tukang roti yang sekarang tak pernah mampir, tukang sayur keliling yang timbangannya selalu kurang, dll.

Itu semua bergosip. Dalam artian sempit.

Tapi saya tak pernah membicarakan orang, saya lebih suka membicarakan hal-hal umum, Berarti saya bukan pengosip dong”, mungkin anda ingin berkata demikian.

Bergosip dalam artian yang lebih luas, bisa diartikan sebagai: membicarakan segala sesuatu tanpa bukti. Membicarakan teori yang belum dikaji secara ilmiah, atau sudah dikaji tetapi belum ada hasil uji yang valid. Menyampaikan berita tanpa rujukan (referensi). Apapun yang kita bicarakan tanpa bukti, tanpa referensi, tanpa kajian yang valid—adalah gosip.

Bagimana dengan prediksi?” Lihat dulu: prediksi yang seperti apa. Ada tata cara ilmiah untuk melakukan prediksi (forecasting). Dasar suatu prediksi ilmiah adalah data pembanding—biasanya data historis (masa lalu). Tentunya data historis yang valid. Selanjutnya, data historis dianalisa, dikaji pola (trend)-nya, dan seterusnya. Tanpa itu? Berarti gosip.

Saya seorang pengamat, pemerhati. Apakah anda mau menyebut hasil analisa saya sebagai gosip juga?

Tergantung bagimana menganalisanya. Ada tata cara baku untuk melakukan suatu analisa atau kajian. Minimal harus ada landasan teori dan data. Dengan 2 prasyarat: (1) teori harus ada rujukannya, sudah teruji secara ilmiah mengenai kebenarannya. (2) Data harus valid. Kalau begini caranya, berarti masih perlu belajar statistika dulu. He he he…

Lupakan statistika, uji ilmiah dan tetek-bengeknya. Tidak semua orang mengerti dan tahu hal-hal seperti itu.

Kalau ada seorang tuna wicara, mungkin dia mau menulis komentar, “Tapi saya tidak bisa bicara, saya tuna wicara. Apakah saya bisa dikatakan bergosip?” Gosip bisa dalam bentuk lisan atau tulisan.

Tetangga saya tuna wicara, kebetulan dia tidak bisa membaca dan menulis. Mungkinkah dia seorang penggosip?”.  Kalau dia mendengarkan orang yang sedang bergosip, itu artinya dia mengkonsumsi gosip. Dan orang yang mengkonsumsi gosip juga termasuk penggosip—penggosip pasif (passive gossiper).

Apakah anda masih mau mengatakan bahwa anda tidak pernah bergosip?

Tidak perlu dijawab. Inti persoalannya bukan ‘siapa penggosip dan siapa bukan’. Yang jauh lebih penting: apakah bergosip itu baik atau buruk? Bisa kita berhenti bergosip?

Secara normatif, kita tahu bahwa bergosip itu adalah tidak baik—terlebih-lebih jika membicarakan kekurangan atau keburukan orang lain. Dosa. Tidak membicarakan keburukan orang lainpun rasanya lebih baik dikurangi, kalau bisa ditiadakan—bisa saja, orang yang melihat dari kejauhan berpikir kalau kita sedang membicarakan keburukan orang lain. Dan itu juga tidak baik, bukan?

Nah itu normatifnya. Berikutnya, ayo kita bicara realistisnya.

Katakanlah anda sedang ditempat kerja.

Anda seorang supervisor. Manajer bertanya “Bagaimana kinerja si A? si B? si C? dst”.  Apakah anda akan mengatakan semua anak buah anda rajin, pintar, tak pernah bikin salah? Apakah itu realistis?

Baik, mungkin anda tak punya manajer. Direktur bertanya, “Apakah semua supplier mengirimkan barang tepat waktu? Apakah barang mereka bagus semua?” Atau “Apakah semua customer/klien membayar hutang-hutangnya? Adakah customer yang nakal” dsb.

Untuk menuju ke kesimpulan, mari kita jawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

  1. Mungkinkah kita bisa untuk selalu membicarakan hal yang baik-baik saja? Kapanpun, dimanapun, dengan siapapun?
  2.  

  3. Mungkinkah kita bisa untuk selalu berbicara bedasarkan fakta, rujukan, dan kajian? Kapanpun, dimanapun, dalam topik apapun?
  4.  

  5. Bukankah sebelum bola lampu berhasil diwujudkan, konsep dan teori Thomas Edison belum terbukti benar, yang artinya masih gosip?
  6.  

  7. Apa yang terjadi jika dulu Alexander Graham Bell tidak bergosip tentang orang yang bisa berkomunikasi melalui kabel?
  8.  

  9. Bagaimana nasib sebuah perusahaan jika semua pegawainya tidak ada yang bergosip?
  10.  

  11. Apakah sekarang ini kita ada, jika dulu tidak ada sepasang insan yang sangat intense bergosip?

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: